Foodies Guide To F&B Industry

9 Kuliner Makassar yang Melegenda untuk Lebaran

June 5, 20195 min readFoodie Trends

Sebagai salah satu kota besar yang berada di Timur Indonesia, Makassar tentu memiliki penduduk yang beragam. Keberagaman ini kemudian membuat Makassar memiliki berbagai jenis makanan dan minuman khas.

Libur panjang lebaran ini adalah waktu yang tepat untuk mencoba atau kembali menyantap beberapa makanan dan minuman tersebut selagi nibblers mudik.

Apa saja sih makanan dan minuman yang bisa nibblers nikmati di Makassar? Berikut beberapa diantaranya!

1. Pisang Ijo dan Palu Butung

pisang ijo

Photo source: id.tastemade.com

Tidak bisa dipungkiri jika es pisang ijo dan es palu butung merupakan dua jenis es yang sedang hits. Bisa ditemui dimana saja, tapi tentu jika disantap langsung dari asalnya akan terasa sensasi yang berbeda.

Meskipun memiliki nama yang berbeda, kedua minuman segar ini memiliki beberapa kemiripan. Perbedaan mendasar antara kedua minuman segar ini bisa ditemui dari jenis

pisang yang digunakan dan es pisang hijau disajikan dengan lapisan kulit yang terbuat dari tepung beras yang dicampur santan dan diberi pewarna hijau dari daun pandan.

2. Konro

konro

Photo source: Detikfood

Bagi penggemar iga, masakan yang satu ini tidak bisa dilewatkan jika nibblers sedang mudik ke Makassar. Merupakan salah satu olahan iga, konro bisa dinikmati dengan kuah ataupun dibakar.

Selama perebusan, iga direbus bersamaan dengan kayu manis, air asam jawa, merica, pala, dan bahan lainnya. Kuahnya yang berwarna gelap seperti rawon dikarenakan salah satu bahan untuk kuahnya adalah buah kluwak. Kuah dari konro juga dikenal kaya akan rempah yang menambah citarasa dari konro itu sendiri.

3. Coto

coto

Photo source: @jamilahyaya

Jika menyebut nama kota Makassar, tentu makanan yang terbayang pertama kali adalah coto. Sebagai salah satu masakan khas dari Makassar, coto sudah terkenal hingga seluruh penjuru Indonesia.

Memiliki bahan dasar daging dan jeroan sapi yang direbus lama hingga kenyal, coto disajikan dengan kuah hangat yang kaya akan rempah. Konon, untuk membuat kuah dari coto ini dibutuhkan 40 bahan dasar, yang diantaranya adalah bawang merah, bawang putih, cabai, asam, garam, dan daun-daunan.

Biasanya coto disantap bersamaan dengan makanan khas Makassar lainnya, yaitu burasa. Burasa adalah sejenis ketupat yang dibungkus dengan daun pisang. Karena porsinya yang tidak terlalu besar, coto dan burasa cocok disantap sebagai sarapan.

4. Barongko

barongko

Photo source: resephariini.com

Jika sudah kenyang menyantap makanan khas Makassar yang beragam, maka barongko adalah pilihan yang cocok untuk dinikmati sebagai makanan penutup.

Berbahan dasar pisang yang dihaluskan dan dicampur dengan gula, garam, telur, dan santan, barongko dibungkus dengan daun pisang dan dihidangkan dengan cara dikukus.

Barongko biasa disajikan saat pesta adat. Selain itu pula, barongko masih dapat dijumpai ketika bulan Ramadan sebagai menu untuk berbuka puasa.

5. Gogoso

gogoso

Photo source: jejakkulinerindo.wordpress.com

Ketika lebaran tiba, di Makassar, selain ketupat lebaran makanan yang satu ini juga menjadi idola.

Memiliki bentuk yang mirip dengan lemper, gogoso memiliki bentuk yang lebih panjang dan lebih ramping dibandingkan dengan lemper. Gogoso berisikan beras ketan yang dimasak dengan santan dan kemudian dibakar dengan dilapisi daun pisang.

Gogoso sendiri ada yang memiliki isian dan ada juga yang tidak. Gogoso yang memiliki isian disebut dengan gogos kambu atau gogos isi. Isinya biasanya ikan tongkol yang dicampur dengan kelapa sangrai dan bumbu.

6. Pallubasa

pallubasa

Photo source: ksmtour.com

Pallubasa sering disebut mirip dengan coto. Sama-sama menggunakan daging dan jeroan sapi sebagai bahan dasarnya, ternyata ada beberapa perbedaan diantara keduanya.

Kuah pallubasa lebih kental dengan tampilannya berwarna kecokelatan. Ada tambahan kelapa parut sangrai atau serundengan yang jadi khas pallubasa. Selain itu, kegurihan pallubasa ditambah dengan kuning telur kampung utuh.

Selain itu, jika coto cocok dinikmati dengan burasa di pagi hari, pallubasa lebih cocok dinikmati bersama dengan nasi putih hangat dan disantap sebagai makan siang.

7. Mie Titi

mie titi

Photo source: pesona.travel

Jika nibblers pada masa kecilnya suka mencamil mie lidi, maka mie titi adalah salah satu makanan yang harus dicoba. Mie titi memiliki bentuk yang mirip dengan mie lidi yang sering dijual di depan sekolahan.

Mie dalam mie titi sejatinya adalah mie basah yang digoreng sehingga menimbulkan bunyi “kriuk” ketika disantap. Mie titi juga disajikan dengan kuah kental yang terdiri dari air, telur, dan tepung kanji. Untuk mendapatkan cita rasa gurih, kombinasi merica dan bawang putih dijadikan sebagai bumbu penyedap.

Jika coto cocok disantap saat sarapan, pallubasa saat makan siang, maka mie titi cocok untuk disantap sebagai makan malam.

8. Songkolo Begadang

songkolo begadang

Photo source: tujuantraveller.blogspot.com

Jika Thailand memiliki mango sticky rice, maka Indonesia juga memiliki makanan yang disantap dengan buah sejak lama.

Songkolo begadang adalah makanan khas dari daerah Bugis yang terbuat dari beras ketan putih atau hitam yang dikukus sampai matang. Songkolo begadang dihidangkan di atas piring serta diberi taburan kelapa parut yang telah di goreng. Lauk pendamping yang khas dari songkolo adalah ikan asin kering serta telur itik asin. elain disantap dengan ikan, telur, sokko juga nikmat dicocol dengan air gula atau disantap dengan buah- buahan seperti pisang masak atau mangga.

Makanan yang satu ini dinamakan songkolo karena berasal dari kata songko yang berarti nasi ketan. Sedangkan nama begadang diberikan karena kuliner yang satu ini kerap disantap tengah malam.

9. Pisang Epe

pisang ape

Photo source: id.tastemade.com

Salah satu olahan pisang lain yang terkenal dari Makassar adalah pisang epe. Pisang yang dijadikan sebagai bahan utamanya adalah pisang kepok yang masih setengah matang. Hal ini dikarenakan pisang yang masih setengah matang akan menghasilkan tekstur yang lembut.

Seperti pisang bakar pada umumnya, pengolahan pisang epe adalah dengan dibakar di atas bara api. Yang membedakan adalah, pisang epe hanya dibakar hingga setengah matang. Ketika sudah cukup lembek, pisang diletakkan di atas alat yang terbuat dari balok kayu dan kemudian ditekan hingga berbentuk pipih. Setelah itu barulah pisang epe kembali dibakar.

Proses pembakaran pisang dilakukan dua tahap dengan tujuan agar pisang terasa sedikit renyah saat dinikmati. Setelah proses pembakaran selesai, pisang diletakkan di atas piring saji dan diguyur dengan lelehan gula merah beraroma durian atau nangka.

Beberapa penjual pisang epe ada yang menyediakan pilihan bahan tambahan yang bisa ditaburkan di atas pisang epe, misalnya cokelat, keju, kelapa sangria, dan kacang panggang.

Sudah siap menggemukan perut saat liburan kali ini nibblers?

Related Articles

Connect with Nibble