Foodies Guide To F&B Industry

Photo by Rendi Widodo

Cerita Kopi Es Tak Kie di Tangan 3 Generasi

August 12, 20194 min readInside Stories

Bicara soal es kopi tentu sesekali kalian penasaran dengan warung es kopi yang umurnya paling tua di Jakarta? Jika bertanya pada kami, jawabannya pasti jatuh pada Kopi Es Tak Kie. Mengapa bukan kopi Warung Tinggi?

Kopi Warung Tinggi terekam lahir sejak 1878, namun kopi ini mengalami banyak perubahan di tubuh badan usahanya. Penggunaan nama Warung Tinggi sendiri baru mulai dilakukan pada tahun 1965. Selain itu, Warung Tinggi telah menjadi brand dengan kompleksitas bisnis yang rumit.

Berbeda dengan Kopi Es Tak Kie yang sudah berdiri sejak 1927 tanpa pernah berganti nama atau berkembang terlalu masif. Kopi Es Tak Kie hanyalah usaha keluarga yang sudah bertahan hingga generasi ke-3.

Dimulai dengan Gerobak

“Didirikan oleh engkong saya Liong Kwie Tjong yang adalah pendatang langsung dari Tiongkok, lalu dilanjutkan oleh ayah saya Liong Tjoen, dan sekarang saya yang pegang,” kata Latief Yulus kepada Nibble.id.

Dirinya mengatakan bahwa dulu kakeknya memulai Kopi Es Tak Kie hanya dari sebuah gerobak kopi di Petak 9.

Photo source: Istimewa

“Dulu mulainya masih dengan makanan yang ringan-ringan, jadi selain kopi juga dulu jualan bubur kacang ijo sama roti-roti juga buat teman minum kopi. Tahun 1927 itu masih pakai gerobak buat jadi teman anak-anak muda nongkrong waktu itu,” ungkapnya.

Kopi Es Tak Kie mulai memiliki toko di tahun 1930, di mana memang pada tahun itu jugalah pemerintahan Belanda mulai membangun gedung-gedung publik. Pindah ke Gang Gloria, Glodok dan hingga hari ini kalian bisa menemukan Kopi Es Tak Kie masih berdiri di antara riuhnya pasar Gang Gloria.

Jam Buka yang Unik

Jam buka Kopi Es Tak Kie juga terbilang unik. Kedai kopi ini mulai buka dari jam 06.30 pagi dan tutup di jam 2 siang. Ternyata pemilihan jam buka ini memiliki cerita yang juga unik di belakangnya.

“Pertamanya dulu buka pagi tutupnya bisa sampai jam 9 malam. Terus sepi tutupnya turun jadi jam 8, terus jam 6, terus jam 5, terus jam 4 dan akhirnya jadi seperti sekarang buka hanya sampai jam 2 siang,” kata Latief.

Photo source: Oomph

Perubahan jam operasional yang semakin pendek ini ternyata disebabkan pengunjungnya yang semakin sedikit dari tahun ke tahun. Penjelasan dari penurunan pengunjung ini pun ternyata sangat sederhana.

“Zaman dulu kan belum banyak mall, jadi semua anak muda itu mainnya ya ke Kota. Nongkrong di tempat ngopi bisa berjam-jam tanpa pakai internet. Kalau hari gini kan ya gak bakal betah anak muda minum kopi tanpa WiFi. Dulu tempat nongkrong paling top ya Pasar Baru. Barang-barangnya mahal-mahal di sana buat orang gedongan, nah kalau di daerah Jakarta Kota kaya gini lebih murah buat orang menengah ke bawah dan anak-anak muda,” katanya.

Perubahan Sejak Pertama Berdiri

Jika ditanya apa sih lebihnya Kopi Es Tak Kie dengan kopi-kopi legenda lainnya di Jakarta. Tentu keautentikkan yang ditawarkan mulai dari cita rasa kopi hingga ke cara penyajian yang sudah diturunkan sejak pertama berdiri.

“Kalau yang berubah paling ya papan nama kita aja, itu sudah tiga kali diganti dari sejak awal berdiri. Dari yang paling awal, lalu pada zaman Pak Harto selama beberapa tahun diganti buat menghilangkan huruf mandarinnya, dan akhirnya pada tahun 1973 boleh lagi pakai huruf mandarin ya papan yang sekarang ini,” lanjutnya.

Semua furnitur meja dan bangku yang ada di Kopi Es Tak Kie ternyata belum pernah diganti sama sekali sejak tahun 1930. Untuk kalian yang penasaran dengan ketahanan kayu jati silakan berkunjung dan temukan meja kursi makan yang berusia 89 tahun.

Cita Rasa Kopi Lampung

Bicara kopinya, Kopi Es Tak Kie hanya menggunakan kopi Lampung yang diracik sendiri. Lestarinya usaha mereka juga memiliki cerita unik terkait supplier kopi. Tak semua usaha bisa mengikuti kelanggengan Kopi Es Tak Kie sehingga mereka sudah merasakan banyak pergantian supplier lantaran bangkrutnya supplier-supplier tersebut.

Cita rasa kopi yang mereka sajikan pun sederhana. Jangan membayangkan rasa kopi yang keras atau pekat seperti kopi-kopi hits hari ini, karena rasa Kopi Es Tak Kie merupakan rasa es kopi yang tak pernah berubah sejak tahun 1927.

Encer dan khas kopi rumahan. Kopi Es Tak Kie tetap percaya diri menggunakan sensasi susu dari krimer kental manis untuk kopi susunya. Bagi kami sendiri nilai terpenting bukan datang dari enak atau tidaknya rasa kopi kalau sudah bicara legenda. Karena pada zaman dulu, seperti itulah rasa kopi yang bisa dinikmati oleh kakek-kakek kita.

Kopi Es Tak Kie hanyalah satu dari segelintir kedai penjelajah waktu yang menyajikan keaslian rasa dari masa lampau. Tahan terhadap godaan perubahan zaman dan tetap berani menjalankan bisnis dengan gaya klasik yang sarat identitas. Di sini, kalian tak hanya membeli kopi, tapi juga sejarah.

Related Articles

Connect with Nibble