Foodies Guide To F&B Industry

Hype Boba Drink yang Terus Berlanjut di Jakarta

August 7, 20193 min readInside Stories

Sekarang banyak dikenal sebagai boba dan terus menjadi hype di ibu kota. Tapi tahukah kalian kalau boba drink itu sendiri sebenarnya sudah lama masuk ke Jakarta?

Kali ini kami tertarik untuk mengangkat perjalanan boba drink lantaran entah mengapa minuman yang satu ini semakin fenomenal. Improvisasi dunia kuliner yang cenderung ekstrem membuat boba ini bahkan sekarang dicampur dengan makanan-makanan yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Semuanya Bermula di Sini

Bubble tea awalnya adalah sebuah minuman teh dari Taiwan yang ditemukan di daerah Tainan dan Taichung pada tahun 1980. Tehnya yang mirip dengan teh tarik di mana ada campuran susu dan pilihan gula yang dipercantik dengan topping bola-bola tapioka.

Bola-bola yang seperti gelembung inilah yang menjadi identitas awal dari nama bubble tea. Teh yang digunakan biasanya adalah teh hitam, teh hijau dan teh oolong. Ada yang murni benar-benar teh dengan bubble saja atau dengan tambahan susu yang membuatnya menjadi bubble milk tea.

boba drink2

Susunya pun bisa terbagi menjadi susu kemasan, susu bubuk atau bahkan susu segar. Pilihan rasanya juga dikategorikan dalam rasa buah dan non buah.

Bubble tapioka ini juga diidentikkan dengan mutiara, jadi tak salah kalau ada yang menamainya pearl tea. Dua Jenis yang paling populer adalah black pearl milk tea dan green pearl milk tea.

Minuman ini lalu menjadi populer di Asia Timur dan Asia Tenggara pada tahun 1990-an.

Masuk ke Indonesia

Walau pada tahun 1990 sudah menjadi minuman hits di kawasan Asia, namun entah kenapa Indonesia termasuk yang lumayan agak telat terimbas hype dari boba drink itu sendiri. Dipelopori oleh brand bubble tea HOP HOP pada tahun 2001. Namun saat itu HOP HOP hanya dikenal sebagai minuman teman kita ngemall.

boba drink eatbook

Photo source: Eatbook

HOP HOP Tidak pernah mendapat eksposur yang besar lantaran pada tahun itu kita masih belum memiliki Facebook, Twitter, bahkan Instagram. Wajar namanya tenggelam dibalik nama-nama besar seperti KOI, Chatime, dan Quickly yang baru masuk ke Indonesia pada tahun 2013.

Soal telat update ini tidak terlalu menjadi masalah. Karena ternyata perkembangan industri kuliner nasional yang dinamis membuat hype boba drink di dalam negeri pun tetap bisa mengejar tren di luar negeri. Efek masif dari penggunaan media sosial menjadi pendukung terbesar tentang perkembangan tren kuliner yang ada di Indonesia.

Bubble atau Boba?

Penamaan ini sebenarnya bukanlah masalah besar. Karena nama seperti bubble tea, pearl tea, atau boba drink memiliki maksud yang sama. Semuanya merujuk pada si bola-bola tapioka. Hanya saja sekarang tren yang digunakan untuk penamaan minuman ini lebih ke boba drink.

boba drink the little epicurean

Photo source: The Little Epicurean

Banyak dari kalian yang tentu pernah merasakan hype dari penamaan bubble tea dan pearl tea beberapa tahun lalu bukan? Jadi, ini cuma masalah tren timeline.

Kata boba sendiri merupakan sebutan untuk si bola tapioka. Dengan sebutan boba drink maka akan diartikan sebagai mimunan yang dicampur dengan bola-bola tapioka.

Inovasi

Hype terus berlanjut, dan boba semakin dikenal sebagai bagian dari tren kuliner yang fenomenal khususnya di Jakarta. Akhirnya banyak bisnis kuliner yang melakukan inovasi pada boba.

boba drink baiza

Photo source: Baizasushi

Boba yang memiliki rasa cenderung netral karena dibentuk dari tepung tapioka ternyata enak bersanding dengan berbagai jenis makanan. Roti bakar, pancake, es krim, dan bahkan sushi bisa menjadi makanan yang bisa dikolaborasi dengan boba.

Mungkin ada saatnya nanti ternyata boba akan menjadi salah satu makanan yang bisa diolah secara independen. Yang pasti fenomena boba drink masih terus berlanjut dan mari kita nikmati inovasi-inovasi yang ditawarkan oleh ekosistem kuliner nasional.

Cover photo: Shutterstock

Related Articles

Connect with Nibble