Healthy Foodie

Pakai 7 Pemanis Alami Ini Sebagai Pengganti Gula

by Danang Lukmana | July 05, 2021

Pakai 7 Pemanis Alami Ini Sebagai Pengganti Gula
Ada banyak lho bahan pemanis alami yang bisa menggantikan pemakaian gula. Yup, penggunaan gula berlebihan bisa mengganggu kesehatan, terutama risiko penyakit diabetes. Sayangnya, meskipun banyak yang sudah tahu risiko tersebut, tanpa sadar tetap saja mengonsumsi gula secara berlebihan. FYI, gula memang punya sifat adiktif yang mengaktifkan hormon dopamin sehingga bikin ketagihan dan menjadi semacam candu. Terlebih kalau sedang stres, tanpa sadar orang akan merasa lapar untuk makan yang manis-manis. Untungnya, ada banyak bahan untuk membuat makanan dan minuman terasa manis tanpa perlu menambahkan gula. Beberapa pemanis alami ini bisa kok memberikan rasa manis pada makanan tanpa khawatir meningkatkan risiko lonjakan gula darah. Nah, bahan-bahan pemanis alami berikut ini bisa jadi alternatifnya yang lebih menyehatkan. Berikut beberapa pemanis alami pengganti gula yang bisa kalian gunakan, dikutip dari Healthline dan Mind Body Green.

1.      Stevia

pemanis alami stevia

source: istockphoto

Stevia merupakan pemanis alami yang berasal dari tanaman Stevia rebaudiana yang awalnya tumbuh di wilayah Amerika Selatan.  Pemanis nabati ini diekstraksi dari satu di antara dua senyawa yaitu, stevioside dan rebaudioside A. Masing-masing mengandung nol kalori, serta kandungan manisnya bisa mencapai 350 kali lebih dari gula, tapi rasanya sedikit berbeda dari manis khas gula. Selain itu, daun Stevia rebaudiana ini juga mengandung sejumlah nutrisi lain yang menawarkan manfaat kesehatan. Beberapa manfaat yang bisa didapat seperti bisa menurunkan tekanan darah, menjaga kadar gula darah, dan insulin.

2.      Madu

pemanis alami dari madu

source: istockphoto

Madu sudah digunakan sebagai pemanis sejak zaman kuno sebelum ditemukannya gula. Cairan kental yang diproduksi dari sarang lebah ini mengandung sejumlah vitamin, mineral, serta senyawa antioksidan yang bermanfaat untuk tubuh. Asam fenolik dan flavonoid di dalamnya juga bisa membantu mencegah diabetes, peradangan, penyakit jantung, dan kanker. Untuk bisa merasakan manfaat kesehatan di dalamnya, disarankan untuk memilih madu yang alami tanpa pasteurisasi dan penambahan gula berlebihan. Akan tetapi tetap saja madu mengandung fruktosa dan kalori cukup tinggi yang juga harus diperhatikan oleh penderita diabetes. Singkatnya, tetap konsumsi dalam jumlah yang wajar saja.

3.      Gula Aren atau Kelapa

source: istockphoto

Bahan pemanis alami jenis ini diproduksi dari karamelisasi air nira yang berasal dari tandan bunga kelapa dan aren (sejenis palem-paleman). Gula kelapa yang sering disebut gula Jawa dan gula aren sudah sering digunakan dalam kuliner masakan dan minuman khas Nusantara. Pemanis alami ini mengandung sejumlah nutrisi seperti zat besi, zinc, kalsium, kalium, dan antioksidan. Meskipun kandungan sukrosanya rendah, tetapi kadar fruktosanya tetap tinggi yang jika berlebihan bisa menimbulkan masalah kesehatan. Kalori di dalamnya juga sama saja seperti gula pada umumnya. Sehingga tetaplah konsumsi dalam jumlah wajar ya!

4.      Sirup Maple

source: istockphoto

Getah pohon maple yang daunnya menjadi simbol negara Kanada ini, juga bisa diekstraksi menjadi sirup pemanis makanan. Di dalamnya terkandung sejumlah mineral yang baik untuk tubuh seperti kalsium, kalium, zat besi, zinc, dan mangan. Beberapa penelitian juga menemukan bahwa sirup maple memiliki sifat anti-kanker. Akan tetapi, tetap harus dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Meski mengandung nutrisi dan antioksidan yang bermanfaat, sirup maple masih tinggi kandungan gulanya. Sehingga sama seperti gula kelapa dan madu, sirup ini harus tetap dikonsumsi dalam jumlah wajar.

5.      Sirup Yacon

source: istockphoto

Sirup yacon diekstrak dari tanaman yac?n, yang berasal dari Amerika Selatan dan secara ilmiah dikenal sebagai Smallanthus sonchifolius. Bahan pemanis ini mengandung sepertiga kalori gula biasa atau sekitar 1,3 kalori per gram. Kandungan fructooligosaccharides di dalamnya membuat sirup yacon mengandung banyak manfaat kesehatan lain. Penelitian menunjukkan fructooligosaccharides bisa mengurangi indeks glikemik, berat badan, dan risiko kanker usus besar. Gak cuma itu, kandungan fructooligosaccharides juga memberi makan bagi bakteri baik di usus, yang penting untuk kesehatan. Bakteri baik di usus bisa menurunkan risiko diabetes dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Kendati disebut aman, tetapi konsumsi sirup yacon secara berlebihan bisa menyebabkan gas berlebih, diare, dan gangguan pencernaan lainnya.

6.      Kurma

source: istockphoto

Buah kurma yang sering dijumpai ketika bulan Ramadan ini bisa dinikmati langsung dalam kondisi segar maupun kering. Buah ini juga bisa lho dihaluskan menjadi semacam pasta untuk bahan pemanis alami pengganti gula. Tapi kandungan fruktosanya cukup tinggi sehingga tetap harus dikonsumsi secukupnya. Meskipun begitu, kurma menawarkan kandungan baik seperti serat yang tinggi, kandungan antioksidan, dan beberapa zat gizi mikro (antara lain kalium, magnesium, tembaga, mangan, zat besi, dan vitamin B6). Kandungan serat tingginya tersebut bisa membantu melancarkan pencernaan dan mengatasi sembelit.

7.      Buah Luo Han Guo

source: istockphoto

Buah luo han guo banyak tumbuh di daratan Tiongkok dan Asia Tenggara yang ternyata juga bisa diekstrak menjadi pemanis. Alternatif alami ini mengandung nol kalori dan bahkan lebih manis 100-250 kali daripada gula. Meskipun mengandung gula alami seperti fruktosa dan glukosa, tetapi rasa manisnya didapat dari senyawa antioksidan yang disebut mogrosida. Mogrosida mengandung antioksidan dan anti-inflamasi yang menggantikan fruktosa dan glukosa pada buah luo han guo. Beberapa penelitian juga menemukan bahwa minuman manis dari buah ini lebih minim kandungan kalori, kadar glukosa, dan insulin, dibandingkan dengan minuman manis sukrosa lainnya. Namun, tetap perhatikan dulu komposisinya sebelum mengonsumsi karena banyak yang sudah diberi tambahan gula. Nah, itu tadi deretan 7 pemanis alami yang bisa menggantikan penggunaan gula. Meski dalam kadar tertentu lebih baik dari gula, tetap harus dikontrol ya kadar penggunaannya. Jika berlebihan tetap saja bisa memberi efek kurang baik untuk kesehatan.