Lifestyle

Ternyata Sejarah Sumpit Punya Cerita Penuh Filosofi

by Atalya Anggraini | March 27, 2020

Ternyata Sejarah Sumpit Punya Cerita Penuh Filosofi
Orang Indonesia mengenal sendok dan garpu sebagai alat makan utama yang selalu digunakan setiap sesi makan. Namun tidak begitu dengan masyarakat Tiongkok, Korea, Jepang, dan negara-negara di Asia Timur lainnya. Mereka menggunakan sumpit untuk menyantap hampir semua makanan. Hal ini mungkin terkesan familiar karena budaya tersebut akhirnya juga masuk ke Indonesia. Tapi pernahkah kalian bertanya-tanya tentang sejarah sumpit? Bagaimana akhirnya dua tongkat kecil tersebut bisa dijadikan alat makan oleh masyarakat jaman dulu? Biar nggak penasaran lagi, simak yuk ceritanya berikut ini.

Sejarah Sumpit Sejak 4000 Tahun yang Lalu

Photo source: Pixabay

Tidak sesederhana bentuknya, sumpit memiliki sejarah yang sangat panjang. Menurut Lan Xiang, seorang kurator sumpit kuno, catatan sejarah menyatakan kalau sumpit telah ditemukan sejak 3.100 tahun yang lalu. Di catatan tersebut, dinyatakan bahwa Zhou, penguasa periode akhir Dinasti Sang, menggunakan sumpit yang terbuat dari gading gajah. Di masa kuno tersebut, sumpit dari gading gajah sudah dianggap sebagai barang yang mewah karena menggambarkan hidup sejahtera yang dijalani sang kaisar. Namun, sumpit yang terbuat dari gading gajah bukanlah sumpit pertama di dunia. Jejak sejarah sumpit mengarah ke kehidupan primitif 4.000 tahun sebelum masehi. Sumpit pertama diprediksi terbuat dari bambu karena nenek moyang bangsa Tiongkok tinggal di dalam hutan. Banyak yang menganggap masyarakat pra sejarah menggunakan ranting sebagai sumpit sebagai piranti makan untuk mengambil masakan dari dalam panci yang panas. Tak hanya ranting yang dianggap sebagai cikal bakal sumpit, tulang dan tanduk binatang pun sempat dijadikan material sumpit oleh orang jaman dulu. Para arkeolog menemukan buktinya di situs sejarah Longqiuzhang, China. Barulah kemudian di era dinasti Xiang dan Sang, muncul sumpit yang dibuat dari material mewah, seperti gading gajah dan giok. Sedangkan sumpit dari bahan besi dan tembaga mulai digunakan selama musim semi dan musim gugur di masa perang, yaitu sekitar 770 – 221 sebelum masehi. Keluarga kerajaan biasanya menyantap makanan dengan sumpit yang terbuat dari perak untuk mendeteksi apakah makanan tersebut beracun atau tidak. Jika makanan diracuni, sumpit perak biasanya akan berubah warna jadi hitam karena racun yang digunakan di masa tersebut biasanya terbuat dari sulfur.

Populasi dan Filosofi Perang

Tercatat pula, sekitar di tahun 400 setelah masehi, pertumbuhan populasi manusia yang begitu drastis membuat para juru masak dituntut untuk bisa masak lebih cepat. Mereka kemudian menggunakan teknik baru demi mengurangi waktu masak, yaitu dengan cara memotong sayuran dan daging menjadi bagian-bagian kecil, sehingga bahan masakan bisa matang lebih cepat. Sejak saat itu, penggunaan sumpit semakin luas digunakan oleh masyarakat Tionghoa karena makanan berukuran kecil lebih mudah disantap dengan sumpit. Bentuk sumpit juga hadir dengan filosofi yang dalam. Confucius percaya, ujung sumpit yang bulat bertujuan agar kita tidak teringat pada kekerasan yang kerap terjadi di masa perang. Confucius juga menyarankan masyarakat untuk makan dengan sumpit daripada menggunakan pisau karena pisau dapat mengingatkan kita pada senjata untuk membunuh orang.

Penyebaran Sumpit ke Negara-Negara Asia Lain

sejarah sumpit

Photo source: Pixabay

Dari Tiongkok, penggunaan sumpit akhirnya menyebar ke negara tetangganya. Sejarah sumpit pertama di luar China tercatat mulai dari Korea Utara. Lalu sumpit juga menyebar ke Jepang. Penggunaannya pertama kali di Jepang dicatat sejak tahun 712 setelah masehi. Namun, para ahli sejarah percaya kalau kehadiran sumpit di negara tersebut sudah jauh lebih awal sejak catatan tersebut. Pada awalnya, sumpit hanya digunakan dalam upacara tradisional di Jepang. Sumpit pertama di negara ini terbuat dari bambu. Masyarakat Jepang mulai mengasosiasikan sumpit sebagai alat makan mereka dan penggunaan sumpit mulai banyak ditemukan di sekitar abad ke-10. Tidak hanya ke Korea dan Jepang, penggunaan sumpit juga tersebar sampai ke Vietnam.

Berbagai Jenis Sumpit di Dunia

Meski memiliki asal mula yang sama, nyatanya jenis sumpit di dunia berbeda antar negara. Variasinya terlihat dari bahan dan ukuran yang digunakan. Biasanya perbedaan ini muncul karena latar belakang sejarah dan kebiasaan masing-masing negara. Penasaran bagaimana perbedaan jenis sumpit di dunia? Ini dia penjelasannya.

Sumpit dari China

Photo source: nihonscope

China merupakan tempat kelahiran sumpit. Sumpit yang berasal dari negara ini berbentuk bulat dengan ujung yang tumpul. Sumpit China memiliki ukuran yang paling panjang di dunia, sekitar 25 cm. Hal ini karena meja makan orang China biasanya berukuran besar dan orang-orang perlu mengulurkan tangan lebih jauh untuk mengambil makanan di tengah meja.

Sumpit Masyarakat Jepang

Photo source: shopee ph

Sejak pertama kali diperkenalkan dengan sumpit, masyarakat Jepang membedakan sumpit untuk pria dan wanita. Sumpit untuk wanita biasanya berukuran lebih pendek daripada sumpit untuk pria. Namun, di tahun 1878, mereka menciptakan sumpit unisex sekali pakai yang terbuat dari bambu dan kayu. Selain itu, orang Jepang juga menciptakan sumpit yang terbuat dari plastik agar bisa digunakan berkali-kali. Namun, jika kita makan di restoran mewah Jepang, kita akan disuguhkan sumpit yang terbuat dari perak, gading, logam, dan tulang. Jika bicara tentang bentuknya, sumpit dari Jepang biasanya memiliki ujung yang lebih lancip daripada sumpit China.

Sumpit Korea

Photo source: eatingtools

Beda lagi dengan sumpit asal Korea, masyarakat negara ini menciptakan sumpit yang sustainable alias ramah lingkungan karena terbuat dari stainless steel. Berhubung tekstur bahan ini sangat licin, di bagian ujung sumpit biasanya terdapat tekstur bergerigi agar jari kita bisa mengunci sumpit saat sedang makan. Ukuran sumpitnya sendiri terlihat lebih kecil dibanding sumpit China atau Jepang. Menarik sekali yaa sejarah sumpit yang barusan kita bahas? Itu semua cukup menjelaskan kalau keberadaan sumpit saat ini sangat melambangkan dunia kuliner Asia.