Photo source: Pexels/Mathias Reding

Penasaran kenapa Halloween identik dengan labu? 

Ya, tiap akhir Oktober feed media sosial mendadak penuh labu orange dengan wajah seram tapi lucu. Mulai dari dekorasi cafe, toko kue, sampai pesta kostum, labu di mana-mana! Tapi kenapa mesti labu ya, bukan semangka atau pisang mungkin?

Ternyata jawabannya bersinggungan dengan festival kuno bangsa Celtic dan cerita rakyat tentang pria pelit bernama Jack. Malah awalnya bukan labu yang dipahat lho!

Yuk, kita telusuri satu per satu agar rasa penasaran kamu terbayar tuntas.

Berawal dari Festival Samhain

Samhain, festival bangsa Celtic sekitar 2.000 tahun silam bisa menjelaskan asal usul Halloween. Festival ini lazim dilakukan di wilayah yang kini menjadi Irlandia, Inggris, dan Prancis bagian utara.

Samhain menandai berakhirnya musim panen sekaligus awal musim dingin. Orang Celtic percaya bahwa pada malam 31 Oktober, arwah orang yang sudah meninggal bisa kembali berkeliaran di bumi.

Karena Samhain berkaitan dengan akhir musim panen, nggak heran kalau hasil bumi ikut mewarnai perayaannya. Tradisi Samhain mencakup penyediaan makanan atau piring kosong kepada roh leluhur yang tengah berkunjung. Misalnya, kentang tumbuk (colcannon) dan roti barmbrack.

Pasca penaklukkan Britania oleh bangsa Romawi pada tahun 43 M, tradisi Samhain berbaur dengan perayaan Romawi dan belakangan juga bercampur dengan All Saints’ Day setelah kedatangan umat Kristen. Nah, malam sebelum All Saints’ Day disebut All Hallows’ Eve, yang lama-lama berubah menjadi “Halloween” seperti yang kita tahu saat ini.

Article imagePhoto source: Unsplash/Kevin Dowling

Cerita Stingy Jack di Balik Jack O' Lantern

Lalu, apa hubungan Halloween dengan Jack O’ Lantern?

Pertama, mari berkenalan dengan Stingy Jack, tokoh dalam cerita rakyat Irlandia. Konon, Jack adalah pria pelit dan licik yang mengajak iblis minum bersama, tapi dia menolak membayar. 

Kemudian, dia membujuk iblis berubah jadi koin, lalu menyimpannya di saku bersama salib perak sehingga iblis tidak bisa kembali ke wujud semula. Jack baru melepaskannya setelah iblis berjanji nggak akan mengambil jiwanya kalau suatu hari dia meninggal.

Sampai akhirnya Jack meninggal, surga menolak Jack karena perilakunya. Sementara itu, neraka juga menolak karena iblis menepati janji. Jack pun dikutuk berkeliaran di bumi dengan bara api di dalam sayuran lobak (turnip) yang dilubangi sebagai penerang jalan. Sosok hantu ini disebut "Jack of the Lantern", lalu dikenal sebagai Jack O' Lantern.

Agar Jack dan roh jahat lainnya tidak mampir, orang-orang di Irlandia dan Skotlandia mulai memahat wajah seram di lobak, kentang, atau bit. Kemudian, mereka menaruhnya bersama lilin di dekat jendela dan pintu. 

Jangan bayangkan bentuknya akan lucu dan menggemaskan. Pasalnya, lentera versi lobak ini punya tampilan mirip kepala manusia yang keriput.

Di sisi lain, lentera buah dan sayuran dengan wajah-wajah menakutkan mengalami penafsiran ulang. Sebagian kalangan menganggapnya sebagai representasi jiwa-jiwa Kristen di api penyucian.

Namun, perspektif itu sejalan dengan kisah Stingy Jack yang pelit. Alhasil, Jack O’ Lantern menjadi kisah peringatan atau kisah moral. Sosoknya ibarat jiwa yang terjebak di antara dua dunia. Jika manusia berperilaku seperti dia, bukan tak mungkin nasibnya akan berakhir serupa.

Article imagePhoto source: Unsplash/Daniyar Orazov

Labu, Bukan Lobak

Sebentar, kenapa Halloween identik dengan labu belum terjawab. Ya, karena kita baru sampai di plot twist asal usul Halloween. Di tengah the Great Famine (wabah kelaparan besar) sekitar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, imigran Irlandia melarikan diri ke Amerika Utara.

Mereka pun membawa tradisi kuno Samhain memahat sayuran. Walaupun terbiasa memakai lobak, kentang, dan bit, para imigran kemudian mengadaptasi seni tersebut ke labu. Buah asli Amerika Utara ini berukuran besar dan jauh lebih mudah dikosongkan daripada lobak.

Hasilnya, tradisi memahat labu yang semula cuma kegiatan umum di musim gugur perlahan menjadi sesuatu yang melekat dengan Halloween. Jadi, menjawab kenapa Halloween identik dengan labu, maka bermula dari warisan cerita rakyat Irlandia dan tradisi memahat sayuran yang telah berjalan ribuan tahun. 

Sampai akhirnya imigran Irlandia datang ke Amerika dan menemukan bahan yang lebih praktis dan gampang ditemukan, yaitu labu. Dari situ, Jack O' Lantern berbentuk labu menyebar ke seluruh dunia lewat film, dekorasi, sampai konten media sosial.

Article imagePhoto source: Pexels/Mathias Reding

Buah Halloween Selain Labu: Ada Apel!

Pertanyaan selanjutnya, adakah buah Halloween selain labu? Tentu saja ada, tepatnya buah apel. 

Buah ini terkenal lewat permainan bobbing for apples, yaitu menggigit apel yang mengapung di baskom berisi air tanpa bantuan tangan. Berbagai sumber kerap mengaitkannya dengan perayaan Romawi untuk Pomona, dewi buah dan pepohonan yang bersimbol apel.

Ketika perayaan itu berbaur dengan Samhain, apel ikut masuk dalam tradisi Halloween. Di masa lalu, permainan ini juga dipakai sebagai ritual untuk meramal jodoh. Konon, jika butuh tiga kali percobaan atau lebih untuk menggigit apel, hubungan cinta yang dijalani bakal kandas.

Selanjutnya, ada candy apple, yakni apel bersalut gula merah yang sering muncul di pesta Halloween. Penemuan permen apel ini terjadi secara tidak sengaja oleh William Koln di New Jersey pada 1908. Ketika itu, ia coba bereksperimen dengan permen kayu manis merah.

Namun, seperti yang sudah disinggung di atas, bahan lentera Halloween sebelum labu justru sayuran akar. Sebut saja, lobak, kentang, dan bit. Bahkan, bit berukuran besar masih dipakai sebagai bahan lentera di Inggris. Artinya, Halloween tak melulu tentang labu, bukan?

Article imagePhoto source: Pexels/Francesco Ungaro

Singkatnya, kenapa Halloween identik dengan labu adalah berkat perpaduan tradisi dan cerita rakyat. Dari tradisi Samhain, cerita Stingy Jack, kebiasaan memahat sayuran, sampai berlabuh di buah labu yang populer di Amerika. Boleh juga nih jadi fun fact seru soal Halloween yang menarik dibahas saat nongkrong bareng keluarga atau teman!