Antara viral dan memang sudah jadi rahasia umum, terungkap kalau banyak penjual siomay nakal yang memakai daging ikan sapu-sapu sebagai bahan utamanya.
Masalahnya lagi, ikan sapu-sapu yang dipakai berasal dari perairan kotor penuh limbah seperti kali atau sungai di kota besar hingga selokan-selokan menjijikkan. Oleh karena itu, penting nih untuk mengenali ciri siomay ikan sapu-sapu biar gak salah beli dan tetap sehat.
Ikan Sapu-Sapu yang Makin Meresahkan

Photo source: @ariefkamarudin
Beberapa bulan ini seorang konten kreator bernama Arief Kamarudin menjadi pembicaraan di media sosial dengan tindakannya memberantas ikan sapu-sapu. Laki-laki asal Lenteng Agung Jakarta Selatan ini secara mandiri membagikan kegiatannya menyusuri aliran Kali Ciliwung untuk memberantas ikan sapu-sapu. Ikan yang masuk kategori sangat invasif ini ditangkap dan dikumpulkan Arief untuk kemudian dimusnahkan.
Aktivisme Arief tersebut didasarkan atas keresahannya terhadap sungai-sungai yang dipenuhi ikan invasif ini. Dilansir CNN Indonesia, Arief mengenang bahwa dahulu ikan-ikan lokal seperti baung, lele liar, tawes masih muda dijala, bahkan masih banyak ditemukan burung air di sekitaran Sungai Ciliwung.
Saat ini, sungai yang melintasi Provinsi DKI Jakarta ini sudah sangat tercemar limbah dan ikan lokal pun semakin langka akibat maraknya spesies invasif seperti sapu-sapu.
Tentu saja aktivisme Arief menjadi bahan perbincangan khalayak ramai sampai akhirnya direspon pihak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pemprov DKI Jakarta akhirnya menggelar operasi serentak untuk memberantas ikan sapu-sapu yang semakin memenuhi sungai, selokan, hingga saluran air.
Dikutip dari Kumparan, pada operasi tanggal 17 April 2026 lalu, hanya dalam waktu 3,5 jam saja, sudah bisa terkumpul 6,98 ton ikan yang punya kulit keras ini. Sebegitu invasifnya ikan ini sampai jumlahnya sangat meresahkan!
Mengenal Ikan Sapu-Sapu

Photo source: Istockphoto
Ikan sapu-sapu yang merebak di perairan tawar Indonesia ini sebetulnya bukan ikan asli Asia Tenggara lho. Dikutip dari Digitani.IPB, ikan air tawar dari genus Pterygoplichthys ini berasal dari kawasan sungai dengan aliran deras dan jernih di Amerika Selatan, seperti di Brazil, Peru, dan Paraguay.
Mereka mempunyai kemampuan bertahan hidup di perairan dengan kadar oksigen larut yang rendah, membuatnya jadi salah satu spesies ikan yang mudah beradaptasi.
Soal makanan, ikan yang punya ciri khas permukaan sisik yang super keras seperti baju pelindung ini memang terkenal sebagai omnivora oportunistik.
Bisa berukuran hingga 35-40 cm dan punya mulut seperti penyedot di bagian bawah, ikan ini terkenal sebagai pemakan alga, ganggang, lumut, dan sisa-sisa kotoran ikan lainnya. Di Indonesia sendiri, mereka awalnya diimpor karena kemampuannya dalam membersihkan sisa lumut dan kotoran di permukaan dasar akuarium maupun kolam.
Hal tersebutlah yang membuatnya mendapatkan julukan sebagai “janitor fish” atau ikan sapu-sapu. Namun banyak orang yang membuang atau melepaskan ikan ini di sungai sehingga menjadi ancaman besar bagi ekosistem perairan lokal.
Lalu apakah ikan sapu-sapu sebetulnya bisa dikonsumsi? Jawabannya adalah BISA dan penduduk asli Amerika Selatan memang kerap menjadikannya sumber protein favorit. Akan tetapi karena karakternya yang pemakan dan penghisap segala, membuat daging ikan ini menjadi sangat berbahaya jika perairan habitat mereka juga merupakan wilayah tercemar.
Seperti pada ikan sapu-sapu yang hidup liar di perairan sungai Jabodetabek ditemukan kandungan limbah industri logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium. Dalam jangka panjang, paparan logam berat dalam tubuh bisa berdampak buruk bagi kesehatan, termasuk kerusakan organ dan masalah neurologis.
Karakter lainnya yang sangat merugikan adalah kemampuannya memakan segala jenis yang ada di depannya, termasuk telur-telur dan anakan ikan endemik lokal. Hal tersebutlah yang membuatnya menjadi salah satu biang keladi semakin langkanya beberapa spesies ikan lokal di perairan Indonesia.
Kemampuannya yang sangat adaptif, termasuk di perairan tercemar, membuat ikan ini seakan menjadi penghuni satu-satunya yang menguasai sungai-sungai di perkotaan seperti Jabodetabek.
Mengenal Ciri Siomay dari Ikan Sapu-Sapu
Kabar yang menyebutkan bahwa banyak masyarakat bantaran sungai Jakarta yang menjadikan ikan sapu-sapu sebagai bahan dagangan siomay sudah terdengar sejak lama.
Berlimpahnya ikan ini di sungai-sungai dan selokan perkotaan membuatnya tidak mempunyai harga jual, alias super murah. Banyak pedagang siomay nakal yang memakai daging ikan tercemar ini untuk memotong modal produksi dibandingkan harus memakai ikan laut seperti tenggiri.
Lalu bagaimana sih mengenal ciri-ciri siomay yang terbuat dari ikan sapu-sapu supaya jangan sampai tertipu? Berikut ini tips dan cara membedakannya;
1. Berwarna Kusam dan Daging Ikannya Gelap

Photo source: Istockphoto
Ciri siomay yang memakai bahan ikan sapu-sapu bisa kita kenali dari tampilan warnanya. Berbeda dengan daging ikan tenggiri yang punya warna segar khas ikan laut, daging ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tercemar akan berwarna lebih gelap. Jika dibuat menjadi siomay, maka siomay tersebut akan cenderung punya warna yang kusam keabuan.
Jadi ketika kamu hendak membeli siomay pinggir jalan, coba perhatikan dulu warna siomay yang masih belum tercampur bumbu. Siomay segar dari bahan ikan tenggiri berwarna lebih bersih dan mengundang selera, bukan kusam yang membuatnya tidak berselera.
Sayangnya penyajian siomay yang dicampur dengan bumbu kacang, sambal, dan kecap membuat warna aslinya tersamarkan. Yuk perhatikan dulu warna aslinya sebelum membeli!
2. Bau Amis yang Lebih Tajam dan Janggal

Photo source: Istockphoto
Ciri kedua yang membedakan siomay dari ikan sapu-sapu dengan ikan lainnya adalah aroma atau baunya yang janggal. Siomay dari bahan ikan tenggiri yang segar akan menghasilkan aroma yang halus dengan amis khas ikan yang tak begitu kuat.
Sedangkan ciri siomay dari ikan sapu-sapu adalah aroma amisnya yang sangat kuat meskipun sudah dicampur bahan tambahan lain.
Selain itu, karena ikan sapu-sapu sudah menyerap banyak kandungan logam berat dan limbah kotoran lainnya, baunya pun menjadi seperti daging ikan busuk. Aroma super amis hingga sedikit busuk ini pastinya akan mempengaruhi rasa dan tekstur siomay itu sendiri.
Selain itu, bagi mereka yang pencernaannya cukup sensitif, bisa langsung bereaksi seperti mual, muntah, dan diare ketika menyantap siomay sapu-sapu.
3. Harganya Murah dan Gak Masuk Akal

Photo source: Istockphoto
Seringkali konsumen tergiur jika ada yang menjual siomay kaki lima dengan harga murah yang kelewatan. Padahal seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, banyak pedagang nakal yang sengaja memotong ongkos modal produksi dengan bahan seperti daging ikan sapu-sapu.
Jika kamu menemukan pedagang yang sengaja menjual siomay dengan harga super murah tapi porsinya normal, bisa jadi itulah ciri siomay yang memakai daging ikan sapu-sapu.
Harga daging ikan sapu-sapu di pengepul hanya berkisar belasan ribu rupiah saja per kilogramnya. Bahkan beberapa pedagang ada yang menangkap sendiri ikan sapu-sapunya dari kali atau selokan sehingga tidak mengeluarkan uang lebih.
Bandingkan dengan daging ikan tenggiri segar yang harganya bisa mencapai 100ribu-an rupiah per kilogramnya.
Memang gak semua pedagang siomay murah artinya memakai daging ikan sapu-sapu. Bisa jadi mereka hanya mengurangi porsi kandungan ikan tenggirinya dengan memperbanyak tepung sebagai pengenyalnya.
Akan tetapi jika harganya tetap tidak masuk akal dan terdapat dua ciri lain seperti sudah disebutkan sebelumnya, di situlah kamu harus mulai curiga.
Nah itulah panduan ciri untuk membedakan siomay dari ikan tenggiri dan ikan sapu-sapu. Yuk mulai perhatikan lebih jeli lagi dengan apa yang kita makan supaya aman dan kesehatan tetap terjaga!