Photo source: @palembangharum
Ngomongin kuliner Palembang, nama pempek dengan cuko pedas, asam, dan gurih langsung mencuat pertama kali. Namun, makanan enak di kota yang sudah berusia 1.343 tahun ini bukan cuma pempek dan olahan ikan. Berbagai jenis kue khas Palembang selalu tersaji di meja dengan rasa yang nggak kalah menggoda.
Kelahiran kue-kue ini berkaitan dengan masa keemasan Kesultanan Palembang Darussalam (abad ke-17 sampai abad ke-19). Ketika itu Palembang berstatus sebagai bandar ramai yang menjadi melting pot beragam suku dan bangsa.
Dahulu, kue-kue ini merupakan suguhan eksklusif untuk keluarga kesultanan dan kaum bangsawan. Pasalnya, pemakaian bahan baku mahal dan mewah pada masanya menempatkan kue-kue ini sebagai simbol kemakmuran dan status sosial tinggi.
Nah, kalau kamu mengaku sebagai sweet tooth alias penyuka makanan manis, deretan kue tradisional Palembang berikut ini patut dicoba. Yuk, intip daftar kue khas Palembang yang jadi suguhan wajib saat hari besar ini.
1. Kue Maksuba
Dari segi visual tampilan kue maksuba selintas mirip lapis legit. Namun, rasa dan bahan keduanya sama sekali berbeda.
Kue maksuba dibuat tanpa memakai tepung terigu sama sekali. Bahan utamanya murni dari puluhan butir telur bebek, mentega, gula, dan susu kental manis. Bahan sederhana tetapi cara pembuatannya tricky karena harus dipanggang selapis demi selapis sampai adonan habis.
Pada tradisi masyarakat Palembang, maksuba adalah simbol penghormatan. Kue ini kerap disajikan pengantin baru kepada mertua atau orang yang dituakan sebagai bentuk rasa hormat. Sedangkan dari segi rasa, manis dan legitnya mewakili harapan hidup manis dan penuh kebahagiaan.
Photo source: @resepkito
2. Kue Lapan Jam
Sesuai namanya, kue lapan jam benar-benar butuh waktu pembuatan selama delapan jam. Memang bahan kue ini serupa dengan kue maksuba. Hanya saja proses pembuatannya berbeda.
Adonan kue lapan jam dikukus terus menerus tanpa henti. Kalau kurang dari itu kue cenderung tidak awet dan teksturnya kurang sempurna. Teksturnya lembut, berpori, dan juicy berkat gula yang terkaramelisasi. Legit!
Btw, filosofi kue lapan jam mewakili keseimbangan hidup manusia dalam sehari: 8 jam bekerja, 8 jam beristirahat, dan 8 jam beribadah. Saking mewahnya, dulu kue ini menjadi hidangan spesial yang hanya boleh dinikmati kaum bangsawan. Kini kue lapan jam selalu ada di hari raya dan hari spesial yang dinanti keluarga dan kerabat untuk menikmatinya bersama.
Photo source: @palembangharum
3. Bolu Kojo
Jika dua kue tadi berwarna kekuningan dan kecoklatan, kue khas Palembang selanjutnya tampil cantik dengan warna hijau pekat. Nama bolu kojo boleh jadi terdengar familier, ditambah lagi bentuknya pun tak biasa.
Kata “kojo” diambil dari kemojo atau bunga kamboja. Pasalnya, dahulu kue ini selalu dicetak memakai loyang berbentuk bunga kamboja. Sementara itu, warna hijau dari perasan daun pandan dan suji memberi aroma harum yang khas, serta mewakili simbol keramahan.
Meski bernama bolu, teksturnya berbeda dari sponge cake. Bolu kojo lebih padat, legit, dan agak basah mirip brownies. Kue ini paling sedap disantap sore hari menemani secangkir kopi atau teh.
Photo source: @palembangharum
4. Engkak Ketan
Engkak ketan juga memiliki lapisan mirip lapis legit atau kue maksuba. Bedanya, kue ini memakai tepung ketan sebagai bahan utama. Kemudian, baru dicampur telur, gula, dan santan, serta mentega atau margarin.
Karena memakai tepung ketan, tekstur kue tradisional Palembang ini lebih kenyal dan padat. Rasa gurih dan legit berpadu sempurna yang membuatnya sedap di lidah.
Uniknya, kue ini bisa tahan lama di suhu ruang meski tanpa bahan pengawet. Hal tersebut terjadi karena proses pemanggangan yang memakan waktu lama. Engkak ketan kerap menjadi suguhan untuk menyambut tamu kehormatan, perayaan adat, dan hari raya.
Photo source: @dessy_cookies
5. Kue Srikayo (Srikaya)
Selanjutnya, ada kue srikayo yang sering ada di daftar menu rumah makan khas Palembang. Alih-alih selai srikaya untuk roti, kue srikayo lebih mirip puding atau custard tradisional.
Bahan kue ini pun simpel, cuma telur, santan, gula, dan air perasan daun pandan atau suji. Kemudian, adonan dikukus dalam mangkuk-mangkuk kecil. Hasilnya, kue legit bertekstur lembut, lumer di mulut, dan manis dengan aroma pandan.
Untuk menikmatinya, kue srikayo disantap bersama ketan putih gurih. Manis srikayo dan gurih ketan benar-benar kawin di lidah. Tak heran kalau camilan satu ini populer dijadikan takjil saat bulan puasa.
Photo source: @dessy_cookies
6. Kue Lumpang
Kue lumpang adalah kue khas Palembang yang punya bentuk unik. Berbentuk bulat dengan cekungan di bagian tengah, mengingatkan kue ini pada lumpang untuk menumbuk padi.
Terbuat dari campuran tepung beras, tepung kanji, santan, dan perasan daun suji atau pandan, kue lumpang punya tekstur kenyal dan sedikit lengket. Ukurannya pun tak begitu besar, bisa dimakan dalam satu kali suapan.
Untuk menyeimbangkan rasa, kue lumpang disajikan dengan kelapa parut yang agak muda dan sedikit garam. Kombinasi manis dan gurih serta aroma pandan bikin kue ini laris manis dijadikan camilan saat sarapan.
Photo source: @_herlina_ng
7. Kue Gandus
Setelah puas membahas yang manis-manis, kita tutup daftar ini dengan kue gandus. Rasa kue ini justru gurih dan sedikit pedas.
Padahal, secara tekstur dan bahan dasar, kue ini mirip kue lumpang. Keduanya sama-sama terbuat dari tepung beras dan santan. Namun, gandus berwarna putih dan dicetak dalam loyang besar atau mangkuk kecil.
Nah, topping kue ini yang bikin menarik. Di atas kue ada taburan ebi sangrai yang dihaluskan, daun seledri, irisan cabai merah, dan bawang goreng. Warna putih kue melambangkan kesucian sehingga menempatkan kue gandus pada posisi penting dalam sajian acara adat, pernikahan, atau hari raya keagamaan.
Photo source: @richa_ca97
Nah, itu dia 7 kue khas Palembang yang bisa kamu coba. Jadi, kalau Nibblers berkesempatan jalan-jalan ke Palembang, luangkan waktu untuk berburu kue tradisional ini selain makan pempek sepuasnya. Mana nih kue yang mau kamu coba lebih dulu?