Photo source: @griyoulambontang
Jika kamu hobi memelihara ikan, nama ikan sapu-sapu tentu tidak asing. Ikan ini kerap dipelihara dalam akuarium dan “bekerja” sesuai namanya, yaitu menjaga kebersihan tempat ia tinggal. Namun, pertanyaan apakah ikan sapu-sapu aman dikonsumsi kembali viral usai penggunaannya sebagai bahan dasar siomay dan makanan sejenis.
Lantas, benarkah siomay ikan sapu-sapu dan makanan serupa aman buat dimakan? Apakah ikan sapu-sapu bisa dimakan sebagaimana jenis ikan air tawar lainnya? Mari kita simak 7 fakta ikan sapu-sapu berikut ini.
Tubuh Pipih, Mulut Mirip Corong
Ikan sapu-sapu punya tubuh pipih dan melengkung. Kepala besar, mulutnya berbentuk mirip corong. Sisik keras dan permukaan licin menyelimuti tubuh ikan ini. Warna tubuhnya cenderung gelap (coklat, abu-abu, hitam) dengan pola bercak yang khas.
Ciri fisik demikian membuat ikan yang aslinya berasal dari Amerika Selatan ini tampak menonjol dibandingkan ikan lain. Ukuran, pola, dan warna berbeda menjadi daya tarik tersendiri.
Meskipun begitu, tampilan ikan sapu-sapu memang tak seindah ikan hias biasa. Namun, ikan yang hidup di perairan tawar maupun perairan payau ini berperan penting dalam ekosistem perairan.
Photo source: @chubbygerm
Ikan Hias yang Populer
Sebagai ikan nokturnal, ikan sapu-sapu lebih aktif saat malam hari. Saat matahari terang benderang, mereka lebih suka bersembunyi di bawah maupun celah-celah bebatuan. Baru ketika malam tiba, ikan sapu-sapu bergerak dan mencari makanan.
Kepala lebar dan mulut berbentuk corong dengan bibir tebal menjadi ciri khasnya. Sirip punggung yang lebar dan panjang serta sirip ekor melebar dan bercabang juga mempermudah pergerakan mereka, sekaligus menjaga stabilitas tubuh ketika berenang.
Nah, ikan sapu-sapu ternyata digemari pecinta akuarium. Ikan yang dapat tumbuh sampai 50 cm dan rata-rata berusia hingga 20 tahun ini bertugas sebagai pembersih kaca alami di dalam akuarium. Beberapa spesies ikan sapu-sapu yang sering dipelihara sebagai ikan hias antara lain Plecostomus, Bristlenose pleco, dan Clown pleco.
Photo source: @griyoulambontang
Si Tukang Bersih-bersih
Peran pembersih alami ternyata bermula dari kebiasaan mereka mencari makanan di dasar perairan, mengais-ngais pasir dan bebatuan. Mereka kerap memakan alga maupun sisa organik dari permukaan hingga dasar perairan.
Di akuarium ikan sapu-sapu bekerja dengan memakan lumut dan kotoran ikan lain. Mereka dapat membantu mengendalikan pertumbuhan alga atau lumut, serta mengurai sisa-sisa organik di dalam akuarium.
Pendek kata, kehadiran ikan sapu-sapu penting dalam menciptakan ekosistem perairan yang seimbang dan sehat. Demikian juga dalam akuarium, ikan ini berfungsi menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya.
Photo source: @griyoulambontang
Bukan Pilihan Utama untuk Dikonsumsi
Terlepas dari manfaatnya, ikan sapu-sapu bukan pilihan utama untuk dikonsumsi. Walaupun sebagian kalangan menganggapnya bisa dijadikan bahan makanan, seperti bahan siomay ikan sapu-sapu, tetapi risiko tinggi mengintai di belakangnya.
Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan sebelum memutuskan untuk mengolah ikan ini menjadi makanan. Pertama, ikan segar yang dikonsumsi harus sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Terdapat aturan yang mengatur ambang batas kontaminan ikan yang dikonsumsi, termasuk kandungan timbal (Pb), merkuri (Hg), arsen (As), dan kadmium (Cd).
Kedua, kondisi perairan tempat ikan itu tinggal. Secara biologis, ikan sapu-sapu dapat dikonsumsi jika bersumber dari budidaya terkontrol dan telah lolos uji laboratorium. Namun, ikan sapu-sapu yang banyak diolah masyarakat saat ini kebanyakan hidup liar di sungai atau kali yang sudah tercemar. Dengan kata lain, ikan hasil tangkapan liar sungai tidak melewati sistem pengawasan dan keamanan mutu pangan.
Photo source: @ihsan_kurban
Ikan Sapu-Sapu dari Sungai Tercemar Tidak Layak Dikonsumsi
Melansir berita Kompas.com, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebutkan ikan sapu-sapu asal Sungai Ciliwung tidak layak dikonsumsi. Pasalnya, hampir sebagian besar ruas sungai ini di wilayah Jakarta sudah tercemar limbah industri.
Apalagi, ikan sapu-sapu adalah ikan dasar yang bertahan hidup dengan memakan alga, sisa organik, dan sedimen di dasar sungai. Perilaku demikian membuat ikan ini rentan menyerap zat berbahaya yang mengendap di dasar perairan, seperti limbah kimia dan logam berat.
Ketika ikan sapu-sapu ditangkap dari sungai tercemar, maka risiko terpapar zat berbahaya jelas lebih tinggi. Betul bahwa ikan ini mempunyai daya adaptasi kuat lantaran mampu bertahan di perairan yang kualitas airnya buruk. Namun, ini bukan karena ikan sapu-sapu kebal racun. Justru ikan tersebut menjadi “sarana” penyerap polutan yang berbahaya kalau dikonsumsi manusia.
Jika mengonsumsi olahan ikan ini, kandungan logam berat dapat terakumulasi di tubuh sehingga berisiko memunculkan keracunan kronis kalau dikonsumsi rutin. Kondisi demikian mendorong pihak berwenang untuk memperingatkan kepada masyarakat dan pedagang makanan bahwa ikan sapu-sapu dari perairan tercemar tidak dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan.
Photo source: @abd.azizfarm
Jadi Pakan dan Umpan Pancing
Tak ada asap jika tak ada api. Pepatah ini juga berlaku pada penggunaan ikan sapu-sapu untuk bahan pangan. Jumlah ikan yang terus berkembang biak di Sungai Ciliwung lebih dari sekadar sinyal sungai telah tercemar. Alih-alih hama, ikan ini malah menjadi sumber penghidupan bagi sebagian kalangan.
Di tengah keruhnya air sungai, sejumlah orang menangkap ratusan ekor ikan sapu-sapu. Lalu, kulit ikan disayat, dibuang ke sungai. Daging dan telur ikan dijual per kilogram kepada pengepul. Telur ikan ini biasa digunakan sebagai umpan pancing. Sedangkan dagingnya kerap diberikan sebagai pakan ternak, baik ayam maupun ikan.
Photo source: @mydha_sitihamidah
Siomay Ikan Sapu-sapu Berbahaya
Ironisnya, ada pedagang siomay yang mengolah ikan ini menjadi siomay ikan sapu-sapu. Alasan utama tentu saja karena harga yang murah dibandingkan daging ikan yang biasa dikonsumsi, seperti bandeng atau tenggiri.
Padahal, menyantap olahan ikan dari sungai tercemar sudah pasti berbahaya. Namun, ada saja ulah pedagang “nakal” yang menempuh jalan demikian demi mendapat keuntungan lebih. Lantas, bagaimana mengenali ciri siomay ikan sapu-sapu?
- Warna siomay lebih gelap, mirip bakso.
- Bau amis yang kuat dibandingkan ikan biasa, biasanya diakali dengan pemakaian jeruk nipis ekstra.
- Jika sudah dicampur bumbu, rasanya mirip siomay ikan biasa. Namun, warna dan bau amis ikannya lebih kentara.
Sekali lagi, bahaya terbesar ikan sapu-sapu bersumber dari habitatnya. Dengan perilaku ikan “tukang bersih-bersih” ini, proses memasak sekalipun tidak mampu menghilangkan risiko cemaran, baik logam berat maupun bakteri lain. Dalam jangka pendek, para pakar kesehatan menyatakan orang yang makan olahan ikan sapu-sapu dapat mengalami muntah-muntah. Sementara itu, pada jangka panjang konsumsi berulang bisa menyebabkan kerusakan ginjal hingga liver.
Photo source: @nersa_jambufarm
Menjawab apakah ikan sapu-sapu aman dikonsumsi, jelas tidak aman. Faktor perilaku ikan sapu-sapu yang memakan alga, sisa organik, dan sedimen serta sungai tercemar sebagai habitatnya menjadi alasan kuat.
Maka, kita pun harus berhati-hati saat hendak menyantap siomay. Pelajari ciri siomay ikan sapu-sapu agar tidak sembarang jajan makanan ini di pinggir jalan. Jika harga jualnya terlalu murah, sah-sah saja kalau kamu meragukan kualitas makanan yang dimaksud. Jadi, tetap hati-hati dan waspada ya!