Photo source: Pexels/makafood
Mengenal istilah babi dalam makanan ternyata perlu. Tanpa menyudutkan pihak mana pun, memang tak semua restoran atau produsen mencantumkan nama lain babi secara gamblang dalam daftar menu atau label kemasan makanan/minuman.
Apalagi, jika kamu pergi ke tempat, kota, atau negara yang penduduknya mengonsumsi daging babi. Belum semua pengelola restoran memahami pentingnya kehalalan makanan/minuman yang disajikan. Kadang mereka pikir ini soal selera, meski sebetulnya ini terkait keyakinan.
Alih-alih menyalahkan pihak lain mengapa tidak mencantumkan sertifikat halal, sebaiknya kamu perlu membekali diri dengan pengetahuan istilah babi dalam makanan. Supaya nggak bingung lagi, yuk, simak pembahasan lengkapnya berikut ini.
Nama Lain Babi dalam Makanan
Dalam dunia kuliner, kata babi punya banyak nama panggilan. Mengutip laman tirto.id, industri pangan kerap menyebut kandungan babi melalui istilah-istilah teknis. Alhasil, bukan sebutan daging atau bagian babi lain yang tertera pada daftar komposisi.
Pun dengan restoran-restoran yang menyajikan makanan nonhalal tanpa menyebutnya sebagai daging babi. Memahami nama lain babi dalam makanan jadi suatu keharusan. Jadi, konsumen muslim, vegan/vegetarian, atau mereka yang tidak makan babi dapat lebih selektif memilih makanan/minuman yang dikonsumsi.
Lantas, apa saja istilah bagian daging babi yang lazim dihidangkan?
1. Pork (daging)
Merujuk pada hampir seluruh tubuh babi, tetapi secara spesifik mencakup daging paha, perut, dan punggung. Biasa muncul pada hidangan steak, pork chop, pulled pork, sup, atau tumisan.
2. Pork belly
Bagian perut babi biasanya dimasak menjadi samcan goreng. Ada juga yang memasaknya menjadi babi panggang renyah dan babi kecap. Potongan yang terdiri atas lapisan lemak dan daging bagian perut ini juga dikenal sebagai samgyeopsal dalam masakan Korea.
Photo source: Pexels/makafood
3. Bakut
Bakut adalah tulang iga. Lazim dijumpai di restoran Chinese food. Kerap dimasak menjadi sup sehingga disebut bak kut teh.
4. Pork trotter
Bagian kaki babi biasa disajikan sebagai masakan berkuah atau semur. Orang Tionghoa menyebutnya cukiok dalam dialek Hokkian, sedangkan jokbal ada di masakan Korea. Pork trotter atau pork hock juga merujuk bagian serupa di kuliner barat.
Photo source: Pexels/Kenneth Surillo
5. Pig ears
Orang Tionghoa merebus atau menggoreng telinga untuk disantap. Disebut juga pig ears atau cu pi dalam bahasa Tionghoa.
6. Pork rind
Kulit luar babi sering dijadikan gorengan kering atau kerupuk kulit (rambak). Orang Filipina menyebutnya chicharon, sedangkan istilah pork rind lebih umum pada masakan barat. Namun, ada juga yang menamakan cracklings, yaitu kulit babi yang digoreng atau dipanggang setelah permukaan kulitnya digosok dengan garam.
Photo source: Pexel/The Findin Pixels
8. Sekba
Sekba mengacu pada jeroan babi, seperti usus, lidah, dan hati. Namun, nama ini juga digunakan untuk hidangan sup jeroan dan daging khas Tionghoa Indonesia. Ada pula yang menyebutnya bektim dengan ciri kuah berwarna gelap dan rasa gurih manis berempah dari penambahan ngohiong, bunga lawang, dan kayu manis.
9. Lard
Lard adalah produk lemak putih semi padat yang didapat dari proses melarutkan jaringan lemak babi. Biasanya lemak babi dijual berbentuk balok dalam bungkusan kertas. Banyak hidangan memakai lard sebagai shortening, lemak masak, atau olesan.
Lard jadi bahan penting sosis, pâté, atau filling untuk hidangan gurih. Lard juga kerap diposisikan sebagai pengganti mentega agar kue kering lebih renyah. Sementara itu, lard dalam kebanyakan masakan Asia hadir sebagai minyak masak multifungsi, khususnya untuk menumis dan menggoreng.
Photo source: Pexels/麗娜 顏
10. Pork shoulder
Pork shoulder adalah bahu babi, dikenal sebagai prime cut dalam anatomi kuliner babi. Potongan bagian pundak atas dekat leher dan tulang belikat disebut Boston butt atau pork butt, cocok dijadikan pulled pork karena banyak guratan lemak.
Lalu, ada potongan bagian pundak bawah atau picnic ham, bertekstur lebih padat dan cocok untuk masakan panggang. Dalam kuliner Jepang, pork shoulder dipadankan dengan nibuta, yaitu masakan babi rebus atau panggang yang memakai potongan pundak.
11. Ham dan bacon
Laman Britannica menyebut, ham merupakan irisan kaki belakang babi yang disajikan segar atau diawetkan lewat proses tertentu. Biasanya, ham dimasak dengan cara pengasapan, pengeringan, atau pengasinan.
Sementara itu, bacon merupakan bagian punggung atau perut babi yang dilepas dari tulang, kemudian diawetkan melalui pengasapan. Bacon juga bisa diambil dari pinggang babi. Bacon lebih kaya lemak daripada ham sehingga memiliki rasa lebih gurih.
Photo source: Pexels/Adonyi Gabor
Apakah Ada Kode Produk yang Mengandung Babi?
Di samping istilah babi dalam makanan, sempat beredar pula informasi kode produk yang mengandung babi. Ini merujuk pada kode E471 dan sempat bikin heboh dunia kuliner beberapa tahun silam. Namun, apakah E471 itu lemak babi masih perlu ditelusuri kebenarannya.
American Halal Foundation pun mengulas penggunaan kode E471 dalam emulsifier. Seperti diketahui, emulsifier merupakan zat tambahan dalam produk makanan untuk membantu mencampur bahan-bahan yang tidak tercampur baik. Misalnya, minyak dan air.
Nah, pengemulsi dapat berbasis tanaman, sintetis, dan hewan. Pengemulsi dari sumber hewani inilah yang perlu diteliti lebih cermat.
Secara khusus, kode E471 adalah mono- dan digliserida asam lemak yang DAPAT bersumber dari babi atau hewan yang disembelih secara tidak halal. Namun, ada juga E471 dari minyak nabati, tetapi membutuhkan verifikasi lanjutan.
Selain itu, masih ada Gliserol monostearat (E471, E472a-f) BISA bersumber dari lemak babi, lemak sapi, atau minyak nabati. Sedangkan E469 adalah pengemulsi dari susu, halal jika memakai susu bersertifikat halal.
Sebagai tambahan, lesitin kedelai (E322) dan lesitin bunga matahari dalam pengemulsi dapat dianggap halal. Dengan catatan, lesitin ini tidak diekstrak memakai pelarut berbasis etanol (alkohol).
Jadi, kode E471 tidak merujuk secara spesifik pada babi, bisa juga hewan yang disembelih secara tidak halal, atau malah minyak nabati. Maka, jika emulsifier hanya mencantumkan pengemulsi E471 tanpa sertifikat halal, sebaiknya hindari saja karena berpotensi memakai sumber haram.
Photo source: Pexels/Mart Production
Memahami istilah babi dalam makanan dapat menambah pengetahuan saat berpetualang kuliner. Cara demikian mewakili sikap hati-hati kita dalam memilih mana makanan, minuman, atau produk lain yang dikonsumsi.
Biasakan pula membaca label komposisi atau menu dengan teliti. Boleh juga cek sertifikat halal produk sebelum membeli di sumber tepercaya seperti Badan Penyelenggaran Jaminan Produk Halal (BPJPH). Jangan sungkan untuk bertanya langsung ke penjual jika masih ragu. Selamat berburu makanan enak dan aman!