Menyandang nama “Chocolate Monggo”, siapa sangka oleh-oleh cokelat paling ikonik dari Jogja ini lahir dari tangan seorang pria berkebangsaan Belgia? Berdiri pada tahun 2005, Monggo menjadi pelopor cokelat artisan pertama di Kota Gudeg.

Kini, Chocolate Monggo laris manis sebagai oleh-oleh khas Jogja, selain bakpia dan gudeg tentunya. Namun, Monggo juga tampil sebagai simbol kebanggan industri cokelat lokal Indonesia.

Cokelat Monggo dari Mana Asalnya?

Sampai tahun 2000-an, pasar cokelat lokal diisi cokelat pabrikan yang bertahan melintasi zaman. Meski menjadi salah satu produsen kakao dunia, budaya konsumsi cokelat belum berkembang.

Situasi demikian mendorong Thierry Detournay, seorang pria Belgia untuk membuat sendiri cokelat berbekal pengetahuan yang ia bawa dari negara asalnya. Seperti kita tahu, cokelat Belgia adalah salah satu cokelat terbaik di dunia dengan menggunakan 100% mentega kakao murni, tanpa lemak nabati tambahan.

Thierry sendiri merupakan lulusan psikologi dari Brussels. Ia memutuskan meninggalkan pekerjaannya untuk traveling ke berbagai negara. Pada 2001 ia tiba di Indonesia guna bekerja sebagai dosen Bahasa Prancis di UGM. 

Sebagai orang Belgia, Thierry terbiasa menikmati cokelat berkualitas setiap hari. Namun, ia kesulitan menemukan cokelat dengan citarasa sesuai lidahnya. Lantas, ia pun memberanikan diri membuat cokelat truffle yang dibagikan gratis kepada teman-temannya.

Respons positif muncul atas produk pertama Thierry ini. Ia pun mulai menjualnya, bermula di Malioboro hingga agenda Sunday Morning (SunMor) setiap akhir pekan di kawasan UGM. Ia mengandalkan motor Vespa berwarna pink sebagai etalase dadakan.

Nama “Monggo” ia pilih karena makna filosofi mendalam. Dalam bahasa Jawa “monggo” berarti silakan, ungkapan sopan dan ramah yang digunakan masyarakat Jogja sehari-hari. Gestur jempol ke depan pun dipilih sebagai ikon brand. Nama tersebut dianggap sempurna untuk merepresentasikan kehangatan budaya lokal dalam setiap gigitan cokelat.

Article imagePhoto source: @chocolatemonggo

Chocolate Monggo Jogja: Dari Vespa Pink ke Destinasi Wisata

Baru setahun merintis, Chocolate Monggo Jogja harus mengalami musibah bencana gempa bumi Jogja Mei 2026. Gempa bumi menghancurkan sebagian tempat produksi cokelat di selatan Yogyakarta. Perlahan tapi pasti, Thierry dan tim Chocolate Monggo berhasil meningkatkan jumlah produksinya.

Pada 2007, Monggo membuka fasilitas produksi kecil di kawasan Kotagede. Sebuah rumah tua menjadi saksi pertumbuhan bisnis ini. Distribusi produk pun mulai masuk ke berbagai toko lokal dan merambah ke kota-kota lain, seperti Solo, Semarang, dan Jakarta.

Selama periode 2010–2014, Monggo membuka toko baru di Jl. Tirtodipuran. Tenaga kerja bertambah, kapasitas produksi tentu meningkat. Bahkan, distribusi Chocolate Monggo berhasil menjangkau Bali, daerah yang belakangan juga memiliki sejumlah produsen cokelat artisan.

Di titik ini varian produk Cokelat Monggo terus bertambah, antara lain bar/batangan, praline, kue, dan snack. Bahkan, rasa unik turut disematkan dalam berbagai varian cokelat, seperti Cabai, Rendang, Mangga, dan Serai.

Seiring waktu konsistensi Cokelat Monggo mempromosikan cokelat tanpa gula tambahan berbuah manis. Selera pasar cokelat lokal perlahan bergeser. Salah satunya ditandai oleh kehadiran berbagai produk cokelat sehat yang fokus pada persentase kakao lebih besar.

Article imagePhoto source: @chocolatemonggo

Memasuki tahun 2017, Chocolate Monggo berekspansi ke Bangunjiwo, Bantul. Bangunan joglo tua disulap menjadi Museum Cokelat Monggo. Wisata edukasi ini menawarkan berbagai pengetahuan seputar cokelat dan berhasil menarik kunjungan dari sekolah-sekolah. Tak cuma museum, kedai kecil yang menawarkan minuman lezat dan aktivitas pembuatan cokelat turut menambah animo pengunjung.

Namun, pandemi Covid 19 datang memaksa Chocolate Monggo memangkas semua biaya agar bisa bertahan. Di sisi lain penjualan online meningkat sehingga dapat menopang roda perusahaan ini. Meskipun produksi cokelat menurun, Chocolate Monggo justru melahirkan produk baru, seperti Monggo Gelato, biskuit, dan snack. Pada saat bersamaan, Monggo juga harus menutup beberapa tokonya sampai kehabisan pasokan kakao akibat petani yang merugi.

Menginjak masa akhir pandemi, larangan pembatasan perjalanan dicabut. Paruh pertama tahun 2022 gelombang turis kembali datang ke Jogja. Chocolate Monggo pun bergerak cepat dengan membangun kembali toko di kawasan wisata Jalan Tirtodipuran dengan konsep “House of Chocolate and Gelato”, sekaligus membangun pabrik berkapasitas lebih besar. Perlahan tapi pasti, Chocolate Monggo Jogja tumbuh menjadi destinasi kuliner lengkap yang memadukan pengalaman belanja, edukasi, dan hiburan.

Article imagePhoto source: @chocolatemonggo

Museum Cokelat Monggo Sebagai Wisata Edukasi

Salah satu daya tarik terbesar dari ekosistem Monggo adalah Museum Cokelat Monggo. Museum ini berlokasi di Jl. Tugu Gentong, Sribitan, Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

Museum Chocolate Monggo berdiri pada 2017. Thierry ingin masyarakat mengenal lebih dekat bagaimana dunia cokelat, mulai dari sejarah awal sampai proses pembuatan modern yang dapat disaksikan secara langsung.

Di dalam museum, pengunjung dapat menjelajahi berbagai zona secara interaktif. Penjelasan mencakup sejarah cokelat dunia, metode perkebunan kakao, proses pembuatan produk Chocolate Monggo, hingga kisah perjalanan brand itu sendiri. Museum buka setiap Senin–Minggu pukul 09.00–18.00 WIB.

Harga tiket masuk cukup terjangkau, yakni Rp50.000 untuk mengelilingi museum dan area pabrik. Pengunjung juga bisa mengikuti kegiatan membuat berbagai bentuk dari pasta cokelat. Pengunjung pun tahu bahwa cokelat dengan kandungan 100% kakao justru terasa pahit alih-alih rasa manis.

Jangan lupa membawa pulang oleh-oleh Cokelat Monggo yang memiliki banyak varian rasa. Cicipi juga gelato di kedai dalam area museum. Pilihan pas guna mengusir dahaga di tengah panasnya cuaca Jogja.

Article imagePhoto source: @chocolatemonggo

Produk dan Keunggulan Chocolate Monggo

Chocolate Monggo menawarkan beragam varian rasa, mulai dari cokelat hitam premium, cokelat putih, cokelat susu, hingga pilihan dengan isian kacang, rempah, atau buah-buahan tropis. Produk best seller seperti varian cashew, praline, dan hazelnut paling banyak diincar. Adapun varian unik seperti jahe, cabai, dan rendang menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan yang ingin cita rasa berbeda.

Setidaknya ada 22 jenis rasa cokelat dengan kandungan kakao mulai 33% hingga 100%. Belakangan dark chocolate mengalami kenaikan penjualan bersamaan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan camilan sehat. 

Article imagePhoto source: @chocolatemonggo

Cokelat couverture Monggo berasal dari mentega kakao murni dengan proses pembuatan mengacu pada teknik tradisional Belgia. Begitu pula minuman racikan Monggo, dibuat dengan susu tanpa air atau tambahan bubuk kakao. Selain cokelat batangan, Monggo juga memproduksi gelato, biskuit, dan produk hampers untuk berbagai momen seperti Hari Valentine, Lebaran, Halloween, dan Tahun Baru Imlek.

Komitmen Monggo juga tampak dari sisi lingkungan. Sebagian besar kemasan menggunakan kertas daur ulang dan pabrik pun memanfaatkan panel surya. Plus, Monggo secara konsisten terus mendukung petani kakao lokal serta mempromosikan budaya wayang kulit sebagai identitas asli Indonesia.

Article imagePhoto source: @chocolatemonggo

Chocolate Monggo adalah bukti nyata bahwa produk lokal mampu bersaing di kelas premium hingga mendunia. Dari lapak Vespa pink di pinggir jalan UGM hingga Chocolate Monggo Museum New Factory Store dan House of Chocolate, perjalanan Monggo adalah cerita tentang ketekunan, cinta pada kualitas, dan perpaduan dua budaya. 

Jadi, saat merencanakan wisata ke Yogyakarta, pastikan kamu mengagendakan waktu khusus untuk jalan-jalan ke Chocolate Monggo.