Photo source: @japanese_ramen_gokan

Jika kamu belum tahu sejarah ramen, kemungkinan besar akan menebak bahwa makanan ini berasal dari Jepang. Ya, ramen memang identik sebagai mie Jepang. Namun, akar hidangan berkuah ini justru bermula dari Tiongkok.

Ramen memiliki perjalanan panjang yang melibatkan imigrasi, perang, hingga inovasi. Yuk, simak apa itu ramen, siapa penemu ramen, dan variasinya dalam ulasan berikut.

Apa itu Ramen?

Sejatinya, kata ramen adalah kata pinjaman dari kata lamian dalam bahasa Mandarin yang berarti mie tarik. Meskipun begitu, kurang tepat untuk memadankan lamian dan ramen, terlepas dari kemiripan dua sajian ini.

Ramen berevolusi dari makanan mie di daerah Kanton, Tiongkok Selatan. Sementara itu, lamian banyak dijumpai di Tiongkok Utara. Mengapa nama ramen mirip lamian pun belum terjawab sampai kini.

Pasalnya, kata tersebut muncul pertama kali di Jepang melalui buku karya Seiichi Yoshida yang berjudul Cara Membuat Masakan Cina yang Lezat dan Ekonomis pada 1928. Yoshida menjelaskan bagaimana membuat ramen dengan tepung dan kansui (air mineral alkali), menguleni dengan tangan, dan meregangkannya. Ramen pun disebut lebih cocok untuk sup atau mie dingin. Dalam konteks tersebut, ramen lebih merujuk pada mie tarik tangan, bukan masakan sup mie.

Nah, kansui ini menjadi bumbu rahasia yang membuat ramen punya tekstur kenyal dan warna kekuningan khas. Penyajian ramen melibatkan lima komponen utama: men (mie), dashi (kuah kaldu), tare (saus dasar), bahan-bahan isian, serta lemak atau minyak.

Article imagePhoto source: @ramensupply

Asal-usul Ramen: "Imigran" dari Tiongkok

Ada banyak teori soal asal usul ramen, termasuk siapa penemu ramen. Catatan sejarah ramen menunjukkan, cikal bakal hidangan ini ada di Jepang dalam komunitas Tionghoa mulai tahun 1880-an. 

Sebagian besar ramen ini bermula dari mie ala Kanton, Tiongkok Selatan, yakni berupa mie yang dipotong. Asal muasal tersebut masuk akal mengingat mayoritas pemukim Tionghoa di Pecinan Yokohama kebanyakan orang Kanton dan Shanghai.

Sup mie Tionghoa pun populer di Yokohama, Kobe, Hakodate, dan Nagasaki, khususnya di kalangan imigran Tionghoa. Nama hidangan itu disebut harafiah, seperti sup mie babi panggang (char sui tang mian) dan sup mie babi iris (rousi tang mian). Sedangkan orang Jepang menyebutnya Nankin soba atau mie Nanjing.

Kemudian, pemerintah Jepang menerbitkan peraturan pada 1899 yang memungkinkan warga asing di Jepang mempunyai usaha di kawasan tertentu. Situasi demikian mendukung penyebaran imigran Tionghoa di seantero negeri.

Pada 1900 restoran Tionghoa ala Guangzhou dan Shanghai bermunculan. Hidangan simpel berupa mie, topping, dan kaldu tulang babi jadi andalan. Memasuki pertengahan tahun 1900-an, gerai ramen kaki lima hadir. Mereka memakai bunyi terompet charumera guna mengiklankan keberadaannya.

Article imagePhoto source: @the_gourmet_bear

Tonggak Sejarah Ramen

Lantas, siapa penemu ramen? Sebetulnya, tidak ada satu nama tunggal yang dapat diklaim sebagai penemu hidangan ini. Ramen berevolusi secara organik, menjadi bagian alamiah akulturasi budaya Tiongkok dan Jepang dalam dunia kuliner.

Namun, ada beberapa tonggak sejarah ramen yang perlu kamu tahu.

1910: Rai-Rai Ken

Inilah toko ramen pertama di distrik Asakusa, Tokyo. Kan’ichi Ozaki membawa dua belas koki Kanton dari Pecinan Yokohama untuk menyajikan hidangan mie perpaduan Tiongkok dan Jepang.

Versi awal ramen berupa mie gandum yang disajikan bersama kaldu dan topping char siu. Ozaki juga mengubah nama Nakin Soba menjadi Shina Soba. Lantaran menyajikan makanan khas Kanton seperti siomay dan pangsit, restoran ini kerap dianggap sebagai tempat lahirnya masakan fusion Jepang-Tiongkok.

Rairaiken asli tutup pada 1976. Namun, restoran terkait dengan nama serupa masih ada. Misalnya, Rairaiken kedua di Yutenji, Distrik Meguro, Tokyo yang dibuka oleh Fu Xinglei pada 1933. Ia merupakan satu dari dua belas koki asli Rairaiken.

Ada juga Shinraiken yang berdiri tahun 1968 di Prefektur Chiba. Pendirinya merupakan murid Ozaki. Terakhir, cucu dan cicit Ozaki membuka kembali Rairaiken sebagai salah satu gerai di dalam Museum Ramen Shin-Yokohama.

Photo source: @eatnaru

1945–1952: Ramen dan Perang Dunia II

Pasca kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, militer Amerika Serikat menguasai Negeri Sakura pada 1945–1952. Kondisi perang berdampak buruk pada hasil panen yang menyebabkan kekurangan pangan. AS pun membanjiri pasar dengan tepung terigu murah guna menangani situasi itu.

Dalam waktu bersamaan jutaan orang Jepang kembali dari Tiongkok dan kawasan lain Asia Timur. Sebagian besar membuka yatai atau warung makan yang menjual ramen. Jiaozi atau gyoza pun disajikan menjadi teman bersantap ramen di warung-warung tersebut.

Tepung gandum sempat “ramai” diperdagangkan di pasar gelap karena pembatasan distribusi dan penjualan makanan di luar ruangan oleh AS. Setelah peraturan dihapus, makin banyak penjual ramen bermunculan. Apalagi, AS agresif mempromosikan manfaat gandum dan protein hewani.

Alhasil, faktor-faktor tersebut menaikkan popularitas mie gandum dalam budaya Jepang yang selama ini berbasis beras. Perlahan, ramen pun tumbuh sebagai bagian kehidupan masyarakat urban.

Article imagePhoto source: @buddha_bellies_tokyo

1958: Nissin ramen instan

Adalah Momofuku Ando yang bisa menjawab siapa penemu ramen instan pertama. Ando menciptakan chikin ramen pada tahun 1958. Penemuan ini mengubah ramen dari makanan restoran menjadi makanan instan yang bisa disantap segera hanya dengan menambahkan air mendidih.

Article imagePhoto source: @mon_panier_asie

1980-an hingga kini: ikon budaya

Sejak tahun 1980-an ramen muncul sebagai ikon budaya Jepang yang mendunia. Jenis ramen lokal pun menyemarakkan pasar domestik sehingga setiap daerah punya hidangan ramen yang tak sama.

Museum Ramen berdiri pada tahun 1994 di Shin-Yokohama, Kohoku-ku, Yokohama, Jepang. Sejarah ramen lengkap dan food court bertema serupa hadir di museum ini.

Kini ramen menjadi salah satu makanan Jepang yang paling populer. Ada lebih dari 24.000 kedai ramen di seantero Negeri Matahari Terbit, sebanyak 5.000-an kedai ada di Tokyo. Ini termasuk restoran ramen di distrik Sugamo, Tokyo yang pernah menerima bintang Michelin pada ahir tahun 2015.

Article imagePhoto source: @japanese_ramen_gokan

Jenis-jenis Ramen

Setiap daerah di Jepang mempunyai jenis ramen berbeda. Perbedaan tampil melalui penggunaan bahan, topping, tekstur mie, hingga kuah. 

Ramen miso di Sapporo

Di ibukota Hokkaido ini, ramen miso Sapporo hadir menghangatkan tubuh. Topping jagung manis, mentega, tauge, bawang putih, dan daging babi cincang, serta makanan laut lokal.

Article imagePhoto source: @halalgourmetjapan

Ramen shoyu Tokyo

Terkenal dengan mie keriting agak tipis yang dihidangkan dalam kaldu ayam rasa kecap dengan sedikit dashi. Topping standar termasuk daun bawang cincang, kamaboko, telur, nori, irisan daging babi, menma, dan bayam.

Article imagePhoto source: @k3v_ippi

Ramen Yokohama

Berupa mie tebal lurus yang disuguhkan bersama kaldu babi bumbu kecap mirip tonkotsu. Topping standar mencakup chashu, bayam rebus, nori, telur rebus, dan irisan bawang merah.

Article imagePhoto source: @ramenguidejapan

Ramen Hakata

Memiliki kuah tonkotsu atau kaldu tulang babi yang kaya rasa, mie agak tipis dan kenyal. Topping berupa acar jahe, biji wijen, acar sawi pedas, dan chashu.

Article imagePhoto source: @ramenguidejapan

Ramen Nagoya

Ramen ini populer bersamaan dengan tren makanan ekstra pedas pada 1980-an. Ramen Nagoya atau disebut juga ramen Taiwan, berisi daging cincang pedas yang disajikan bersama mie dan kuah pedas. 

Article imagePhoto source: @karamen_shachirin

Ada banyak cerita dalam sejarah ramen. Dari yatai di pinggir jalan hingga restoran dengan penghargaan Michelin, mencicipi ramen di tanah kelahirannya jelas agenda wajib. Jadi, apa ramen kesukaan kamu?